First Sight August

12 August 2017 09:00

Sorotan performans dari ‘First Sight’ pada tanggal 12 Agustus di Museum MACAN. Reza Afisina, FX Harsono, Agung Kurniawan, Tisna Sanjaya, Melati Suryodarmo and Yin Xiuzhen

 

Yin Xiuzhen

 

b. 1963, Beijing, China. Based in Beijing, China

 

Washing the River

Washing the River pertama kali ditampilkan pada tahun 1995, saat Yin Xiuzhen mempelajari kondisi air Sungai Funan di Chengdu, Tiongkok. Seniman membekukan air dari sungai tersebut menjadi balok-balok es, menyusunnya, kemudian dengan bantuan penduduk setempat, secara simbolis mencuci balok tersebut menggunakan sikat dan sapu.

Performans ini dirancang khusus untuk Museum MACAN dengan menggunakan air dari Kali Pesanggrahan. Seniman mengundang audiens dari kawasan setempat untuk bersama-sama ‘mencuci sungai’. Aksi pembersihan ini adalah bentuk intervensi publik dan kegiatan komunal, sebagai upaya meningkatkan kesadaran tentang alam lingkungan sekitar kita. 

Yin Xiuzhen lulus dari Capital Normal University di Beijing, jurusan Seni Lukis. Ia bekerja dengan beragam jenis medium, termasuk lukisan, patung, instalasi, performans. Ia merespon isu personal, sosial dan pengaruh perubahan lansekap sosial di Tiongkok masa kini. Karya-karyanya telah dipamerkan di berbagai pameran penting, termasuk Moscow Biennale ke-5 (2013); Shanghai Biennale ke-5 (2008); Venice Biennale ke-52 (2007); dan São Paulo Biennial ke-26 (2004).

 


 

FX Harsono

b. 1949, Blitar, Indonesia. Based in Jakarta dan Yogyakarta, Indonesia

 

Writing in the Rain (Live Performance)

Penulisan berulang nama FX Harsono dalam karakter Mandarin atau han zi telah menjadi tindak berkelanjutan dalam karyanya. Karya ini merujuk pada riwayat keluarga dan pengalamannya sebagai warga keturunan Tionghoa di Indonesia. Seniman menggunakan proses penulisan nama ini untuk menyatakan identitasnya dan merupakan usaha untuk memulihkan ingatan dari abai sejarah. Seni performans ini personal namun juga terikat pada komunitas dan diaspora Tionghoa di Indonesia. 

FX Harsono muncul sebagai sosok penting dalam perkembangan seni rupa kontemporer di Indonesia melalui peranannya sebagai anggota Gerakan Seni Rupa Baru di era 70-an. Ia telah ikut serta dalam berbagai pameran penting di dunia internasional antara lain Sydney Biennale ke-20 (2016); Moscow Biennale ke-4 (2011) and Asia Pacific Triennial ke-1 (1993). 

 


 

Tisna Sanjaya 

b. 1958, Bandung, Indonesia. Based in Bandung, Indonesia

 

Potret Diri Sebagai Kaum Munafik

Dalam karya Potret Diri Sebagai Kaum Munafik, Tisna Sanjaya mengundang audiens untuk mengecat kanvas-kanvas dengan berbagai rempah, lumpur dan arang; bahan yang mewakili keragaman Indonesia dan kepulauan Asia Tenggara. Seni performans ini melibatkan proses dan partisipasi dengan audiens dan terinspirasi dari ayat Al Quran “bagimu agamamu, bagiku agamaku”. Melalui seni performans ini seniman mendorong kita tak hanya sadar akan toleransi, namun juga bertindak selaras dengan lingkungan sosial.

Dipengaruhi oleh studi kesenian di Indonesia dan di Jerman, karya-karya Tisna Sanjaya menggabungkan seni cetak, seni performans, sastra dan tradisi lokal untuk menanggapi masalah lingkungan dan sosial politik. Karya-karyanya telah ditampilkan dalam sejumlah pameran di kancah internasional antara lain  Singapore Biennale (2013); Gwangju Biennale ke-5 (2004); dan Venice Biennale ke-50 (2003);. Ia mengajar di Institut Teknologi Bandung dan mendirikan Imah Budaya Cigondewah, sebuah ruang kesenian di pinggiran kota Bandung, Indonesia. 
 


 

Reza Afisina

b. 1977, Bandung, Indonesia. Based in Jakarta, Indonesia

 

The Plan Need Not be Accurate So Long as It Shows The Disposition  of The Rooms

Reza Afisina menghadirkan seni performans dengan memanfaatkan benda temuan dari sampah sisa konstruksi Museum MACAN dan rumah tinggalnya. Ini adalah respon langsung pada museum dan proses konstruksinya. Kombinasi dari benda domestik dan sisa bahan-bahan bangunan kemudian mengangkat pertanyaan bagaimana sebuah benda naik pangkat menjadi karya seni.  Di titik manakah sebuah benda menjadi karya seni? Di titik manakah seniman menjadi warga biasa? Dalam seni performans ini Reza Afisina merujuk kepada isu peranan seniman dalam kehidupan bermasyarakat.

Reza Afisina belajar sinematografi di Institut Kesenian Jakarta, Indonesia. Reza utamanya berkarya video dan seni performans.  Ia telah berpameran dan berkarya di berbagai tempat, termasuk Jakarta Biennale (2015);  OK Video Festival, Jakarta (2011); dan City Net Asia, Seoul Museum of Art (2011). Karyanya telah dikoleksi Guggenheim Museum,  New York. Reza adalah anggota RuangRupa, Jakarta, dan Direktur Artistik ArtLab. 

 


 

Melati Suryodarmo

b. 1969, Surakarta, Indonesia. Based in Surakarta, Indonesia

 

Eins und Eins

Eins und Eins, atau diterjemahkan sebagai ‘satu dan satu’ adalah seni performans berdurasi tiga jam dimana seniman membayangkan dirinya sebagai perwujudan sebuah bangsa yang menyimpan rasa ketidakpuasan, ketertindasan, penuh agresi dan kekerasan yang kemudian meledak dan menyisakan tengara bercerai-berai di sekelilingnya. Melati mengungkapkan ini melalui meludah dengan mulut penuh dengan tinta. Pengungkapan ini merupakan tindakan yang lekat dan dan mendalam. Visualisasinya secara mengherankan tampak indah dan terkait dengan sejarah lukis dengan tinta, kaligrafi dan awal mula kaitannya dengan bahasa. Meludah, berucap, berbahasa, dan pengungkapan tubuh menciptakan lingkaran utuh dalam seni performans ini. 

Melati Suryodarmo memperoleh gelar Doktor dari Hochschule für Bildende Kunst, Braunschweig, Jerman dan  Institut Seni Indonesia, Yogyakarta. Ia telah berpartisipasi dalam sejumlah pameran tersohor seperti Singapore Biennale (2016); Asia Pacific Triennial ke-8 (2015); dan Jogja Biennale XI (2011); Manifesta 7 (2008); Venice Biennial ke-50 (2003). Ia menginisiasi Undisclosed Territory, sebuah festival seni performans tahunan independen di Surakarta, Indonesia dan saat ini tengah bertugas sebagai Direktur Artistik Jakarta Biennale 2017. 

 


 

Agung Kurniawan

b. 1968, Jember, Indonesia.  Based in Yogyakarta, Indonesia

 

Sri: Sebuah Biografi dalam 65 Kata

Dalam seni performans ini, Agung Kurniawan memimpin sebuah “paduan suara” yang melibatkan suara-suara yang datang dari audiens. Masing-masing audiens yang terlibat diberikan sebuah kata, dan dibawah arahannya, paduan suara ini menceritakan ulang bagaimana seorang biduan istana bernama Sri, memperjuangkan untuk menyambungkan kembali bagian-bagian kehidupan setelah selamat dari cobaan traumatis saat puncak karirnya.

Agung Kurniawan dikenal akan kemampuannya membahasakan permasalahan sosial dan politik yang kerap satir dan berkelakar. Piawai dalam teknik gambar, ilustrasi dan komik, belakangan ini Agung menjelajahi seni performans. Pada tahun 1996, ia memenangkan penghargaan Phillip Morris Art Award. Ia juga berpartisipasi di Jogja Biennale XIII (2015); Van Abbemuseum, Belanda (2012) serta Gwangju Biennale ke-9 (2012). Ia juga mengelola ruang seni independen, Kedai Kebun Forum di Yogyakarta. 

 

 

Agung KurniawanSri: Sebuah Biografi dalam 65 Kata (2017) © Agung Kurniawan
Image courtesy of Museum MACAN
Agung KurniawanSri: Sebuah Biografi dalam 65 Kata (2017) © Agung Kurniawan
Image courtesy of Museum MACAN
Agung KurniawanSri: Sebuah Biografi dalam 65 Kata (2017) © Agung Kurniawan
Image courtesy of Museum MACAN
FX HarsonoWriting in the Rain (Live Performance) (2017) © FX Harsono
Image courtesy of Museum MACAN
FX HarsonoWriting in the Rain (Live Performance) (2017) © FX Harsono
Image courtesy of Museum MACAN
FX HarsonoWriting in the Rain (Live Performance) (2017) © FX Harsono
Image courtesy of Museum MACAN
Melati SuryodarmoEins und Eins (2017) © melatisuryodarmo
Image courtesy of Museum MACAN
Melati SuryodarmoEins und Eins (2017) © melatisuryodarmo
Image courtesy of Museum MACAN
Melati SuryodarmoEins und Eins (2017) © melatisuryodarmo
Image courtesy of Museum MACAN
Reza AfisinaThe Plan Need Not be Accurate So Long as It Shows The Disposition of The Rooms (2017) © Reza Afisina
Image courtesy of Museum MACAN
Reza AfisinaThe Plan Need Not be Accurate So Long as It Shows The Disposition of The Rooms (2017) © Reza Afisina
Image courtesy of Museum MACAN
Reza AfisinaThe Plan Need Not be Accurate So Long as It Shows The Disposition of The Rooms (2017) © Reza Afisina
Image courtesy of Museum MACAN
Tisna SanjayaBagimu Agamamu, Bagiku Agamaku (2017) © Tisna Sanjaya
Image courtesy of Museum MACAN
Tisna SanjayaBagimu Agamamu, Bagiku Agamaku (2017) © Tisna Sanjaya
Image courtesy of Museum MACAN
Tisna SanjayaBagimu Agamamu, Bagiku Agamaku (2017) © Tisna Sanjaya
Image courtesy of Museum MACAN
Yin XiuzhenWashing the River (2017) © Yin Xiuzhen
Image courtesy of Museum MACAN
Yin XiuzhenWashing the River (2017) © Yin Xiuzhen
Image courtesy of Museum MACAN
Yin XiuzhenWashing the River (2017) © Yin Xiuzhen
Image courtesy of Museum MACAN

Daftarkan diri Anda untuk menerima newsletter Museum MACAN

Ikuti perkembangan terkini tentang Museum MACAN.
Dapatkan newsletter bulanan untuk pameran
dan program publik yang akan datang.