First Sight September 2017

09 - 10 September 2017

Pada tanggal 9 dan 10 September, Museum MACAN menyajikan seri seni performans dan program diskusi bersama seniman Indonesia dan internasional. First Sight juga memungkinkan pengunjung untuk menikmati preview dari fasilitas dan interior museum. Seniman termasuk: Arahmaiani, Heman Chong, Mella Jaarsma, Duto Hardono, Justin Shoulder dan Xu Zhen.

 

Karya-karya di akhir pekan ini menimbang masa lalu seraya mengangankan masa depan, menyoal kerja dan transaksi, serta peran kritis audiens dalam melengkapi perjumpaan. Di dalamnya antara lain karya Justin Shoulder Carrion: Episode 1 (2016), sesosok makhluk rekaan spektakuler yang dihidupkan melalui koreografi; dan Xu Zhen lewat In the Blink of an Eye yang membekukan waktu dan menentang gravitasi. Penyajian ulang karya Arahmaiani dari 1996, Handle Without Care (1996 – 2017) yang dianggap amat penting dalam perkembangan seni rupa kontemporer di Indonesia. Karya Duto Hardono berjudul Variations & Improvisation for‘In Harmonia Progessio’ (2017) yang menghidupkan ruangan Museum melalui pengulangan bunyi yang tercipta dari suara sejumlah relawan. Karya Mella Jaarsma Dogwalk (2016), tentang sekelompok manusia yang berpura-pura menjadi hewan, yang mengajak kita memikirkan kecenderungan akan kendali dan hubungan kita dengan binatang. Karya Heman Chong berjudul A Short Story, Somewhere, Out There (2017), ditampilkan di ruang yang tersembunyi dari pandangan publik, terdiri dari tugas sederhana – pertukaran cerita pendek antara penulis, penerjemah, instruktur dan pesertanya. 

 

 


 

Duto Hardono

b. 1985, Jakarta, Indonesia. Lives and works in Bandung, Indonesia

 

Variation & Improvisation for ‘In Harmonia Progressio’

Variation & Improvisation for ‘In Harmonia Progressio’ (2017) adalah bagian dari seri karya bunyi dan komposisi musik bertajuk Variation & Improvisation yang dikembangkan oleh Duto Hardono selama menjalankan residensi di Nanyang Technological University Center of Contemporary Art, Singapura pada tahun 2016. Karya ini berfokus pada pengulangan bunyi-bunyian sebagai elemen dasar performansnya. Berbeda dengan karya lainnya, di mana ia menghasilkan bunyi menggunakan pita magnetik analog, dalam performans ini ia menggunakan suara manusia. Para aktor diminta menyuarakan ‘In’, ‘Harmonia’, dan ‘Progressio’ – sebuah frasa Latin yang berarti ‘kemajuan dalam harmoni’. Setiap suara dimodifikasi intonasi, nada, dan amplitudonya dalam komposisi musik yang minimal. Performans ini mengubah suara dan bahasa dengan bunyi komposisi terimprovisasi yang mengisi ruangan museum. Ini adalah proses aksi dan reaksi yang oleh sang seniman digambarkan menyerupai bentuk komunikasi manusia yang paling dasar dan purba.

Duto Hardono belajar di Institut Teknologi Bandung. Ia merupakan seorang seniman konseptual yang bekerja dengan bebunyian yang kerap mengambil referensi dari budaya populer dengan cara yang jenaka. Karyanya telah ditampilkan dalam beberapa pameran besar seperti Saitama Triennale (2016); Biennale Jogja XII (2013): dan Shanghai Biennale ke-9 (2012). Ia juga mengajar di Fakultasi Seni dan Desain, Institut Teknologi Bandung.

 


 

Xu Zhen

b. 1977, Shanghai, China. Lives and works in Shanghai, China

 

In the Blink of an Eye

In the Blink of an Eye (2005) adalah sebuah karya performans sekaligus patung, yang mengambil bentuk seseorang dalam gerakan tertunda sehingga tampak melawan waktu dan gravitasi. Pakaian yang dipakai oleh penampil merupakan seragam para pekerja kasar di Tiongkok pada umumnya. Hal ini dikembangkan oleh sang seniman untuk merefleksikan realitas para buruh dan pekerja migran di Tiongkok – yang kedudukan sosial dan ekonominya masih tak menentu. Akankan orang-orang tersebut jatuh? Akankan mereka menemukan tempatnya berdiri? Kegelisahan dan kebingungan sesaat menjadi pokok karya ini. Meski dibuat di Tiongkok, karya ini memiliki kesamaan dengan berbagai belahan dunia lainnya, termasuk Indonesia, dalam kaitannya dengan mata rantai pasokan global, tenaga kerja, dan pertumbuhan ekonomi dalam jejaring terglobalisasi.

Xu Zhen adalah seorang seniman konseptual yang karyanya merespon situasi urban di Tiongkok melalui humor teatrikal dan kritik sosial. Karyanya telah ditampilkan di berbagai pameran penting termasuk Asia Pacific Triennial ke-7 (2012); dan Guangzhou Triannial ke-1 (2012); dan Venice Biennale ke-49 (2001). Pada tahun 2009, ia mendirikan sebuah perusahaan bernama MadeIn yang menggabungkan praktik artistik pribadinya, dan di tahun 2013 perusahaan tersebut meluncurkan merek bernama Xu Zhen, yang menjadikan dirinya sebagai produk perusahaannya sendiri. 

 

 


 

Arahmaiani

b. 1961, Bandung, Indonesia. Lives and works in Bandung, Indonesia

 

Handle without Care

Handle without Care (1996 – 2017) merupakan sebuah salah satu karya terpenting Arahmaiani dari dekade 1990-an yang mencerminkan berbagai perubahan sosial dan budaya akibat pergeseran politik, ekonomi, dan agama dalam perspektif masyarakat Indonesia pada masa itu.

Performans ini, yang menggabungkan beberapa elemen – musik tradisional, mantra dan doa keagamaan, tari tradisional, dan benda konsumen yang mencolok, mengarah pada pertemuan berbagai kebudayaan – Animisme, Hindu, Buddha, Islam, dan Barat. Dampak globalisasi, pengalaman asimilasi, tanggapan terhadap pluralisme, dan pencarian nilai-nilai universal – yang semuanya berpautan dalam performans ini – masih sama relevan pada hari ini dengan saat karya ini pertama kali ditampilkan 20 tahun yang lalu.

Arahamaini dikenal karena pendekatannya yang eksperimental dan sarat muatan politis. Karya-karyanya menggunakan berbagai medium termasuk lukisan, drawing, instalasi, dan video. Ia belajar di Institut Teknologi Bandung pada tahun 1983, dan melanjutkan studinya di College of Fine Art, Sydney kemudian di Academie voor Beeldende Kunst, Belanda. Karyanya telah dipamerkan di pameran internasional penting termasuk Venice Biennale ke-50 (2003); Sao Paolo Biennale ke-25 (2002); dan Asia Pacific Triennal ke-2 (1996).

 


 

Mella Jaarsma

b. 1960, Emmeloord, Netherland. Lives and works in Yogyakarta, Indonesia since 1984

 

Dogwalk

Dogwalk (2016) menilik hubungan antara manusia dan hewan dalam interpretasi satir sebuah peragaan busana. Dalam performans ini, dua belas model mengenakan kostum kulit sapi, kambing, dan domba lalu berjalan saling menggiring satu sama lain menggunakan tali kekang. Karya ini tampak lucu sekaligus absurd, mengangkat pertanyaan tentang bagaimana gaya hidup urban yang serba cepat telah mengurangi kemampuan kita untuk menjalin hubungan mendalam dengan lingkungan dan alam.

Mella tinggal di Yogyakarta. Ia pindah dari Belanda pada tahun 1984 untuk belajar di Institut Kesenian Jakarta dan Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Ia berkarya dengan menggunakan beragam medium termasuk lukisan, drawing, fotografi, video, instalasi, dan performans. Karyanya telah dipamerkan di berbagai pameran internasional antara lain SUNSHOWER: Contemporary Art from Southeast Asia from 1980 to Now di Mori Art Museum, Tokyo (2017); Biennale Sydney ke-20 (2016); Jakarta Biennale (2013); Biennale Jogja X (2009); Gwangju Biennale ke-4 (2002). Bersama Nindityo Adipurnomo, ia mengelola Rumah Seni Cemeti yang didirikan pada tahun 1988.

 


 

Justin Shoulder

b. 1985, Sydney Australia. Lives and works in Sydney, Australia

 

Carrion: Episode 1

Justin Shoulder mempersembahkan Carrion: Episode 1 (2016), yang merupakan bagian dari proyeknya yang berkesinambungan berjudul ‘Fantastic Creature’. Carrion adalah sosok imajiner yang dibuat dari kostum dan prostesis buatan tangan dan digerakkan melaui gerakan sang seniman. Sosok ini merupakan perwujudan rekaan ‘aneh’ sang seniman tentang budaya leluhurnya yang berasal dari Filipina sekaligus imaji tentang masa depannya yang dipresentasikan dalam tata panggung teater.

Justin Shoulder terutama berkarya performans, video, dan patung untuk mengangkat isu-isu mengenai homoseksualitas, migran, dan pengalaman lintas budaya. Shoulder, yang sudah tidak asing dengan skena bawah tanah Australia, juga secara aktif memproduksi berbagai acara dunia malam untuk berinteraksi dengan komunitas LGBTQIA dan diaspora yang menjadi sumber inspirasinya. Karyanya telah ditampilkan di pameran internasional termasuk Artists’ Film Biennial, London (2016); Asia Pacific Triennial ke-8 (2015); dan telah mengadakan pameran tunggal di Museum of Contemporary Art, Sydney (2016).

 


 

Heman Chong

b. 1977, Muar, Malaysia. Lives and works in Singapore

 

A Short Story, Somewhere, Out There

A Short Story, Somewhere, Out There (2017) adalah karya Heman Chong yang dapat digambarkan sebagai transaksi waktu dan kata. Dalam karya ini, cerita pendek sepanjang 500 kata yang ditulis oleh sang seniman (dan diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Grace Samboh) dipertukarkan oleh dua orang. Karya ini terdiri dari seorang instruktur yang memegang salinan cerita dan seorang partisipan yang harus mempelajarinya. Pertukaran tersebut akan terjadi dalam sebuah ruangan tertutup, terisolasi dari dunia luar. Partisipan hanya diperkenankan meninggalkan ruangan setelah dia menghafal cerita tersebut, kata demi kata. Sebagai ganti dari waktunya, si partisipan akan menyimpan cerita pendek itu dalam ingatannya (sepanjang ia bisa) dan ikatan intim dengan sang instruktur. Penonton performans ini hanyalah sang instruktur, penerjemah cerita, partisipan yang mengingat cerita dan tentunya, penulis itu sendiri. Chong menantang gagasan transaksi konvensional dengan mempertukarkan sesuatu yang tak ternilai dan berbentuk abstrak sembari memanusiakan proses menyiarkan cerita pendek tersebut.

Heman Chong adalah seorang seniman yang karyanya berada di persimpangan antara citraan, performans, situasi dan tulisan. Baru-baru ini ia memproduksi sebuah seri pameran yang saling terhubung di Art Sonje Center in Seoul (Never, A Dull Moment, 2015), South London Gallery in London (An Arm, A Leg and Other Stories, 2015) and Rockbund Art Museum in Shanghai (Ifs, Ands, Or Buts, 2016). Ia adalah wakil direktur dan bersama Renee Staal menjadi salah satu pendiri ‘The Library of Unread Books’ yang saat ini tengah ditampilkan di MCAD (Museum of Contemporary Art and Design) Manil. Ia kini tengah menulis novel berjudul ‘The Book of Drafts’ yang akan diterbitkan oleh Polyparenthesis pada tahun 2019.

 

 

 

 

 

ArahmaianiHandle Without Care (1996-1997) © Arahmaiani
Image courtesy of the artist
Duto HardonoDuto Hardono rehearsal for Variation & Improvisation for ‘In Harmonia Progressio’ (2017) © Duto Hardono
Image courtesy of Museum MACAN
Heman ChongA Short Story, Somewhere, Out There (2017) © Heman Chong
Image courtesy of the artist and FOST Gallery
Justin ShoulderCarrion (2016) © Justin Shoulder
Image courtesy of the artist
Mella JaarsmaDogwalk (2015-2016) © Mella Jaarsma
Image courtesy of the artist
Xu ZhenIn the Blink of an Eye #1 (2005). Collection of Museum MACAN © Xu Zhen
Image courtesy of MadeIn Company and LongMarch Space

Daftarkan diri Anda untuk menerima newsletter Museum MACAN

Ikuti perkembangan terkini tentang Museum MACAN.
Dapatkan newsletter bulanan untuk pameran
dan program publik yang akan datang.